Ketauhidan dan Pemahaman Islam yang Benar *)

Pada dasarnya setiap bayi manusia yang terlahir ke dunia ini sudah ada dalam ajaran tauhid, yakni ajaran mengesakan Allah swt. Ini didasarkan kepada Q.S Al-A'raf Ayat 172 :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ(172)الاعراف

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS.Al-A'raf : 172)

عن أنس بن مالك ر. قال النبي ص : " كل مولود يولد من والد كافر او مسلم فانما يولد على الفطرة على الاسلام كلهم , ولكن الشياطين أتتهم فأجتالتهم عن دينهم فهودتهم ونصرتهم ومجستهم وأمرتهم ان يشركوا بالله ما لم ينزل به سلطان " ر الحكيم ( جمع الجوامع 5:ص 391 : ر 15908 )

Dari Anas bin Malik ra,  bersabda Rasulullah saw : " Semua anak yang dilahirkan baik dari orangtua kafir atau muslim, tiada lain dilahirkan dalam fithrah, dalam Islam semuanya, akan tetapi syetan telah mendatanginya, dan menggelincirkannya dari agamanya, dia meyhudikannya, mengkristenkannya, memajusikannya, dan menyuruh mereka untuk menyukutukan Allah, sesuatu yang tidak diberikan kepadanya kewenangan." (HR. Al-Hakim)

Adanya potensi orang untuk menyimpang dari ajaran/akidah tauhid juga sudah diingatkan Allah dan Rasul-Nya :

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ فَأَقُولُ إِنَّهُمْ مِنِّي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي  – ر البخاري

Dari Sahal bin Sa'ad ra berkata, bersabda Nabi saw : Sesungguhnya aku akan mendahului kalian sampai di sebuah telaga, barangsiapa yang mendekat kepadaku akan bisa  minum, barangsiapa yang minum tidak akan haus lagi. Kemudian akan digiring kepadaku sekelompok orang yang aku mengenalinya, dan mereka mengenali aku, tapi kumudian antara aku dengan mereka dihalangi. Lalu aku berkata : Sesungguhnya mereka adalah dari umatku. Lalu dikatakan : Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (dalam agama) sesudah engkau tiada. Maka aku menyuruh : menjauhlah, menjauhlah hai orang-orang yang merubah-rubah (agama) sesudahku.  ( HR.Al-Bukhari)

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ- فاطر : 37  

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (QS.Fathir : 37)

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَالَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا(66)وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا(67)رَبَّنَا ءَاتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا(68)- الاحزاب

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS.Al-Ahzab : 66-68)

Kita kaji dari hal yang paling mendasar, yakni Rukun Iman dan Rukun Islam. Selama ini kita meyakini bahwa Rukun Iman ada enam dan Rukun Islam ada lima, berdasar :

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ ... ر مسلم 

Berkata Umar Ibnul Khattab ra: Ketika kami bersama Rasulullah saw pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang lelaki dengan pakaian sangat putih, dengan rambut sangat hitam, tidak nampak padanya bekas menempuh perjalanan, dan tidak ada diantara kami yang mengenalinya, sampai ia duduk di depan Nabi saw, dia menempelkan kedua lututnya dengan dua lutut Nabi, dan menyimpan kedua telapak tangannya pada paha Nabi saw. Lalu bertanya : Ya Muhammad beritahu aku tentang Islam. Rasulullah saw menjelaskan : Islam itu, Engkau bersaksi tiada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan dan berhaji ke Baitullah jika engkau mampu. Dia berkata : Engkau benar. Umar berkata : kami kaget dengannya, bertanya tapi membenarkannya.  Lalu Dia bertanya lagi : Beritahu aku tentang iman. Nabi saw menjelaskan : Iman itu engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kepada Hari Akhir, serta beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk. Dia berkata : Engkau benar. …. ( HR. Muslim).

Dalam keyakinan kaum Syi'ah (Rafidhah), Rukun Islam-nya sama lima, tapi tidak ada Syahadat :

عن ابي جعفر عليه السلام قال : بني الاسلام على خمسة أشياء : على الصلاة و الزكاة والحج والصوم والولاية ؛ قال زرارة : فقلت : وأي شييء من دالك افضل ؟ فقال : الولاية أفضل, لانها مفتاحهن و الوالي هو الدليل عليهن ... – أصول الكافى محمد بن يعقوب الكليني  2: 15 ر 3

Dari Abi Ja'far as. Berkata : Islam didirikan di atas lima perkara : Shalat, zakat, haji, shaum, dan Al-Wilayah. Bertanya Zurarat  : Mana di antara yang lima itu yang paling utama ? Dia menjawab : Al-Wilayah yang paling utama, sebab  Al-Wilayah pembuka atas perkara-perkara itu, dan Wali adalah dalil bagi kelima perkara itu…. ( Ushul Al-Kafi 2: 15 no. 3 )

Demikian juga Rukun Imannya, hanya ada lima, dengan istilah yang berbeda. Muhammad Al-Husein Ali Kasyiful Ghitha dalam kitabnya Ahlusy-Syi'ah wa Ushuluha:  Rukun Iman Syi'ah Rafidah : 1) At-Tauhid  2) Al-'Adlu  3) An-Nubuwah  4) Al-Imamah  5) Al-Ma'ad   ( Muhammad Al-Husein Ali Kasyiful Ghitha , Ahlusy-Syi'ah wa Ushuluha) – ( KH.Irfan Zidny,MA , Bunga Rampai Ajaran Syi'ah )

Kaum Syi’ah  tidak meyakini akan jaminan Allah tentang keotentikan dan orsinilitas Al-Qur’an yang termaktub dalam QS. Al-Hijir : 9, karena menurut keyakinan mereka Al-Qur’an yang ada sekarang bukan Al-Quran yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw. Ini terungkap antara lain :
Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq Al-Kulaini dalam Kitabnya Al-Kafi fil Ushul, Kitab Fadhail Al-Qur’an 2 : 350  meriwayatkan dari Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah:

عن ابي عبد الله عليه السلام قال : أن القران الدي جاء به جبريل عليه السلام الى محمد ص سبعة عشر ألف اية – أصول الكافي 2: 350 ر 29

 “ Sesungguhnya Al-Quran yang dibawa oleh Jibril as kepada Nabi Muhammad saw adalah 17.000 ayat.”  Padahal Al-Qur’an yang berada di tangan kita berjumlah 6236 ayat, berarti dua pertiganya telah hilang.  Kemudian di Bab Al-Hujjah  1 :142  dijelaskan bahwa bagi kaum Syi’ah memiliki  Kitab suci sendiri yang bernama “ Mushaf Fatimah “ yaitu sebuah Mushaf di dalamnya semisal Al-Qur’an yang tebalnya tiga kali lipat, dan tidak ada satu huruf-pun yang sama dengan Al-Qur’an.

(... وان عندنا لمصحف فاطمة ع س وما يدريهم ما مصحف فاطمة ع س ؟ قال : قلت : و ما مصحف فاطمة ع س ؟ قال : مصحف فيه مثل قرانكم هدا ثلاث مرات , والله ما فيه من قرانكم حرف واحد ... أصول الكافى 1: 142)

Tapi anehnya yang disebut "Mushaf Fatimah itu sampai sekarang tidak pernah ada, tidak pernah bisa mereka tunjukkan. Sementara kepada Al-Qur'an yang ada yakni " Mushaf Utsmani " mereka meragukannya bahkan menolaknya. Lantas mereka memakai Qur'an yang mana ? Ni’matullah Al-Jazairi berkata : “Telah diriwayatkan dalam banyak hadits bahwa mereka telah memerintahkan para syi’ah mereka untuk membaca Al-Qur’an yang ada ini dalam shalat dan lainnya serta mengamalkan hukumnya hingga munculnya Maulana Shahib Az-Zaman lalu   ia mengangkat Al-Qur’an ini dari tangan-tangan manusia menuju langit dan mengeluarkan Al-Qur’an yang disusun oleh Amirul Mukminin, maka dibaca dan diamalkan hukum-hukumnya.  ( Al-An-war an-Nu’maniyyah 2: 363 )

Mirza Husain bin Muhammad Taqiy An-Nuri Ath-Thubrusi, dalam kitabnya Fashl Al-Khitab fi Tahrif Kitab Rabbi Al-Arbab hal  32 menyebutkan : “ Sesungguhnya Al-Qur’an yang ada pada kita bukanlah Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw, tapi telah dirubah, diganti, ditambahi dan dikurangi.”  Diantara contoh ayat-ayat yang katanya ditahrif :

-                                            إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إِبْرَاهِيمَ وَءَالَ محمد عَلَى الْعَالَمِينَ ( ال عمران: 33)-فصل الخطاب : 264 
-                                            يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ لرسول الله والامام من بعده  ( ال عمران : 102) – فصل الخطاب :267
-                                            يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ من ال محمدصلوات الله عليهم ( النساء : 59)قصل الخطاب : 274
-                                            وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا بالمتعة حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ  ( النور:33) فصل الخطاب : 315
-                                            وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فى ولاية علي  فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا (الجن:23) – فصل الخطاب : 340
-                                            يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ الى محمد ووصيه والائمة من بعده(27)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً بولاية علي مَرْضِيَّةً بالثوب (28)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي مع محمد واهل بيته (29)وَادْخُلِي جَنَّتِي  غير مشوبة (30) – فصل الخطاب : 345

Dalam keyakinan Syi’ah, disamping ada yang disebut “ Mushaf Fatimah “ ada kitab-kitab samawi lain yang diturunkan kepada Nabi saw, tapi dikhusukan buat Amirul Mukminin.

Dalam Ahmadiyyah juga telah nampak penyimpangan dalam masalah Akidah , terutama menyangkut masalah adanya lagi nabi dan rasul pasca Nabi Muhammad saw. Serta  turunnya wahyu setelah Al-Qur'an.
Klaim Mirza Gulam Ahmad dan pengikutnya, bahwa Ia seorang  nabi dan menerima wahyu, jelas sebuah penyimpangan akidah yang sangat serius, sebuah klaim yang bathal dan munkar, karena mengingkari firman Allah swt :


مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

الاحزاب : 40

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS. Al-Ahzab : 40

Pengikut nabi palsu memelintir makna “ Khatam “ bukan dalam arti penutup, melainkan dengan arti “ cingcin atau stempel “ , hal ini bisa dilihat dari pernyataan :

a.      Selanjutnya Ahmadiyyah berkata bahwa kalimat “ Khatam” dapat dibaca “ Khatim” yang berarti hiasan bagi sang pemakainya. Apabila diartikan demikian , maka Rasulullah saw itu bagaikan hiasan indah bagi nabi-nabi. Dalam Fathul Bayan juga dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah bagaikan hiasan cincin yang dipakai oleh para nabi, karena beliau nabi termulia. “  ( Saleh A. Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyyah, hal : 34 ).       
b.      Jadi perkataan “ Khataman nabiyyin “  berarti “ Cap atau stempel “ dari pada nabi-nabi, yakni Nabi Muhammad saw ialah kebagusan dari pada segala nabi-nabi.              ( Bashiruddin Mahmud Ahmad, Jasa Imam Mahdi )

Jika para nabi diumpamakan jari-jari, dan Nabi Muhammad saw diumpamakan sebagai cincin penghias jari, kemudian dimaknai bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi termulia, ibarat cincin pada jari, pertanyaannya kemudian : “ Muliaan mana antara cincin dengan jari ? “ Kiranya semahal-mahal cincin, masih ada jualan. Tapi seborok-borok jari tidak ada jualan ! Dengan demikian mengumpamakan Nabi Muhammad saw dengn cincin dan para nabi lainnya sebagai jari, bukan merupakan sebuah penghormatan kepada Nabi Muhammad saw, melainkan sebuah  penghinaan.

Rasulullah saw. sudah menegaskan bahwa tidak ada lagi nabi sesudah beliau, dan tidak ada umat sesudah umat Muhammad ( umat Islam ), kalau ada orang mengaku atau mendakwakan dirinya sebagai nabi, dia itu adalah Dajjal. Itu diungkap dalam banyak hadits, antara lain :

كانت بنو اسرئيل تسوسهم الانبياء , كلما هلك نبي خلفه نبي , وانه لا نبي بعدي , وسيكون خلفاء فيكثرون – ر البخاري

“ Bani Israil itu terus menerus dipimpin oleh para nabi, setiap seorang nabi wafat, diganti oleh nabi lainnya, dan sesungguhnya tidak ada lagi nabi sesudahku,  dan akan ada khalifah yang jumlahnya banyak. “  HR. Al-Bukhari.

ان الرسالة والنبوة قد انقطعت فلا رسول بعدي ولا نبي – ر احمد والترمذي

“ Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah dipubngkas, maka tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahku, “  HR. Ahmad dan At-Tirmidzi

ان الله لم يبعث نبيا الا حذر أمته الدجال , وانا اخر الانبياء و انتم اخر الامم , وهو خارج فيكم لا محالة , انه يبداء فيقول : انا نبي , ولا نبي بعدي – ر ابن ماجه

“ Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang nabipun, kecuali ia mengingatkan umatnya tentang ( bahaya ) dajjal.  Aku adalah penutup nabi dan kalian adalah umat terakhir, Dajjal itu akan muncul di tengah-tengah kalian pasti,   Sesungguhnya dia akan nampak dari perkataannya : ‘ Aku adalah nabi ‘, Padahal tidak ada lagi nabi sesudahku. “ HR. Ibnu Majah

Argumentasi lain yang dikemukakan oleh penganut agama Ahmadiyyah, bahwa Mirza adalah nabi, bahkan nabi yang sudah dijanjikan dalam al-Qur’an, dengan mengklaim bahwa Nabi Ahmad yang dijanjikan dalam QS. As-Shaf : 6 adalah Mirza Gulam Ahmad, dan bukan Nabi Muhammad saw. Dalam ayat itu dijelaskan :

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ - ألصف : 6

Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi  kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata". QS. As-Shaf :6

Dalam Majalah Ahmadiyyah Suara Ansharullah No. 3 , Juli 1955 disebutkan : “ Jika orang benar-benar  meneliti maksud al-Quran itu ( Surat 61:6 ) maka akan mengetahui bahwa yang dimaksud dengan nama Ahmad bukanlah Nabi Muhammad saw, tapi seorang rasul yang diturunkan Allah swt pada akhir zaman sekarang ini. Bagi kami ialah : Hazrat Ahmad  Al-Qadiani. “

Padahal tentang siapa yang dimaksud dengan Ahmad dalam ayat itu jelas bukan Mirza Gulam Ahmad, melainkan Nabi Muhammad saw.  lebih kurang dua belas abad sebelum Mirza dilahirkan. Nabi saw. bersabda :

لي خمسة أسماء : انا محمد و احمد , و انا الماحي الذي يمحوا الله بي الكفر , وانا الحاشر الذي يحشر الناس على قدمى , وانا العاقب الذى ليس بعده نبي – ر البخاري و مسلم

Aku punya lima nama : Aku adalah Muhammad, dan Ahmad, Aku Al-Mahi ( Penghapus), yang Allah menghapus dengan ( kerasulanku ) kekufuran, Aku Al-Hasyr( Penghimpun ), yang Allah kumpulkan manusia di bawah telapak kakiku ( pengaruhku), dan Aku adalah Al-‘Aqib              ( Penutup ) yang tidak ada lagi nabi sesudahnya.  HR. Al-Bukhari dan Muslim.

Selain keyakinan bahwa Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad saw , keberadaan kitab Tadzkirah  yang diklaim sebagai “ Wahyu Muqaddas “, semakin mengukuhkan Ahmadiyyah sebagai sebuah agama.  Kitab itu diyakini diturunkan pada Lailatul Qadar, kepada  Mirza Gulam Ahmad yang mendakwakan diri sebagai Al-Masih Al-Mau’ud     ( Nabi Isa yang dijanjikan turun lagi ) dengan menyebut dirinya sebagai Al-Masih Al-Muhammadi ( Al-Masih turunan Nabi Muhammad ) Sementara Nabi Isa as. Sendiri disebutnya sebagai Al-Masih Al-Israili ( Al-Masih turunan Israil ). Kitab itu katanya diturunkan di sebuah tempat dekat desa Qadian di India.  Inilah kutipan dari Kitab Tadzkirah :

1) انا انزلناه فى ليلة القدر ؛2) انا انزلناه للمسيح الموعود – تذكرة : 519
3) انا انزلناه قريبا من القاديان ؛ 4)  وبالحق انزلناه وبالحق نزل ؛5) صدق الله ورسوله ؛6) وكان امر الله مفعولا ؛ 7) الحمد لله الذي جعلك المسيح ابن مريم – تذكرة : 637

Dari tujuh ayat di atas nampak tiga ayat merupakan “ Bajakan “ dari al-Qur’an : ayat nomer satu dari QS. Al-Qadar : 1 ; ayat nomer empat  dari QS. Al-Isra : 105 ; dan ayat nomer enam dari QS An-Nisa : 46.
Yang lebih aneh tentu saja bahasa wahyu yang dipakai dalam kitab Tadzkirah adalah bahasa Arab, padahal Mirza Gulam Ahmad lahir dan mati di India, Sementara Allah tidak pernah mengutus seorang nabi atau rasul, kecuali bahasa ( wahyu ) yang dipakainya adalah bahasa kaumnya, bahasa masyarakat yang didatanginya, supaya mudah dimengerti oleh mereka.  Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab, karena Nabi Muhammad saw. diturunkan di tengah bangsa Arab. Lantas wahyu yang diterima Mirza itu sebenarnya buat siapa ? Allah swt menegaskan :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ – ابرهيم : 4

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.  QS. Ibrahim : 4

Satu lagi contoh penyimpangan dalam Akidah, Ajaran Pluralisme Agama. Nabi saw pernah mengingatkan :

عَنْ سُوَيْدِ بْنِ غَفَلَةَ قَالَ قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – ر احمد والبخاري

Dari Suwaid bin Ghaflah berkata, berkata Ali ra : Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : “ Akan datang di akhir zaman orang-orang dengan muda usia,  buruk akhlak, mereka bicara dengan ayat-ayat al-Qur’an, tapi sudah lepas jauh dari ajaran Islam, seperti lepasnya anak panah dari busurnya, imannya tidak melewati tenggorokannya ( hanya di lidah ) . Diamana saja kamu bertemu dengan mereka perangilah mereka, sesungguhnya memerangi mereka itu akan mendapat pahala pada hari kiamat. “ HR. Ahmad dan Al-Bukhari.


Pluralisme, sebuah teologi yang muncul dan didesain dalam setting sosial-politik humanisme sekuler Barat yang bermuara pada tatanan demokrasi liberal.  Pluralisme ingin tampil sebagai klaim kebenaran baru yang humanis, ramah, santun, toleran, cerdas, dan demokratis. Hal ini dikatakan oleh tokohnya, John Hick.  Semua agama, baik yang tesitik maupun non-teistik, dianggap sebagai sama, sebagi ruang atau jalan yang bisa memberikan keselamatan, kebebasan, dan pencerahan, semua agama benar. Karena pada dasarnya semua agama merupakan respon yang beragam terhadap hakikat ketuhanan yang sama.  Agama dianggap sebagai pengalaman keagamaan. Kemungkinan datangnya agama dari Tuhan atau Dzat Yang Maha Agung dinafikan dan ditolak mentah-mentah.
Tokoh seperti Joachim Wach, seorang ahli perbandingan agama kontemporer bahkan mendefinisikan bahwa pengalaman keagamaan sebagai agama itu sendiri. Lahirlah kesimpulan bahwa semua agama sama secara penuh tanpa ada yang lebih benar daripada yang lain. Sebuah kesimpulan yang menyulitkan mereka sendiri, ketika muncul pertanyaan : “ Apakah agama Kristen, dan Islam sama persis dengan agama-agama primitif dan paganis ( penyembah berhala ) yang kanibalistik ?”

Dalam wacana pemikiran Islam , Pluralisme Agama masih merupakan hal baru dan tidak memiliki akar idiologis dan teologis yang kuat. Pluralisme agama lebih merupakan perspektif baru yang ditimbulkan oleh penetrasi kultur Barat. Malah ada yang menyebut merupakan rekayasa Freemasonry Internasional, sebuah organisasi Yahudi yang sejak awal mengusung slogan :  “ Liberty, Egality dan Fraternity” (Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan ), dan mempropagandakan persaudaraan universal tanpa memandang etnis, bangsa, dan agama. Organisasi ini muncul sebagai ‘baju’ untuk menyerukan penyatuan tiga agama ( Yahudi, Nashrani dan Islam ) dengan agama universal dan mengikis belenggu fanatisme terhadap agamanya.  Dalam IslamWacana Pluralisme ini baru muncul pasca perang Dunia II, ketika terbuka kesempatan bagi generasi muda muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat, terutama mereka yang mengambil jurusan Studi Islam dengan dosen-dosen Yahudi dan Krsiten atau Para Orientalis. Dalam waktu yang bersamaan, gagasan Pluralisme agama ini menembus dan menyusup ke dalam wacana pemikiran Islam. Antara lain melalui karya-karya pemikir-pemikir mistik Barat Muslim seperti Rene Guenon ( Abdul Wahid Yahya ) dan Frithhjof Schon ( Isa Nuruddin Ahmad ). Buku-buku mereka seperti The Transcendent Unity of Religion, sangat sarat dengan tesis-tesis  atau gagasan-gagasan yang menjadi inspirasi dasar bagi tumbuh dan berkembanganya wacana pluralisme agama.  Sayyed Hossein Nasr, seorang tokoh  Syi’ah, termasuk yang ikut mempopulerkan teologi Pluralisme.  Nasr telah menuangkan tesisinya tentang Pluralisme agama dalam kemasan Sophia perennis atau perennial wisdom ( Al-Hikmat al-Khalidah atau kebenaran abadi ), yaitu sebuah gagasan menghidupkan kembali kesatuan metafisikal ( metaphysical unity ) yang tersembunyi di balik ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah dikenal sejak zaman Nabi Adam as. Menurut Nasr, memeluk atau meyakini satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-sungguh, berarti juga telah memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos kepada satu poros, yaitu kebenaran yang hakiki dan abadi. Perbedaan antar agama dan keyakinan, menurut Nasr, hanyalah pada simbol-simbol dan kulit luar. Inti dari agama tetap satu.

Budhy Munawar Rahman , dosen filsafat di Universitas Paramadina Jakarta, dalam tulisannya, di situs www.Islamlib.com 13 Januari 2002 , Ia mencoba memaksakan teologi Pluralis dengan melihat agama-agama lain sebanding dengan agama Islam. Terhadap QS. Ali Imran : 19 dan 85 dia mengajak orang-orang untuk memahaminya dengan semangat inklusivisme, semangat  “Agama Universal “ dimana Islam diberi makna sebagai agama yang penuh kepasrahan kepada Allah swt. Sehingga semua agama bisa dimasukkan ke dalamnya, asalkan berpasrah diri kepada Allah.
Muhammad Ali, Dosen UIN Jakarta dalam tulisannya di harian  Republika, tgl 14 Maret 2002  dalam judul Hermeneutika dan Pluralisme Agama, juga mengajak agar tidak memahami QS. Ali Imran : 19 dan 85 itu dalam bingkai teologi eksklusif yakni keyakinan bahwa jalan kebenaran dan keselamatan bagi manusia hanyalah dapat dilalui melalui Islam. Ayat-ayat itu harus dipahami dengan teologi pluralis dan teologi Inklusif.  Nurcholis Madjid yang merupakan salah seorang tokoh pengusung telogi Pluralisme dalam kata pengantar  buku Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman menyatakan : “ Kendatipun cara, metoda atau jalan keber-agamaan menuju Tuhan berbeda-beda, namun Tuhan yang hendak kita tuju adalah Tuhan yang sama, Allah yang Maha Esa. “ Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa ia mengakui keberadaan dan kebenaran semua agama, dan menyejajarkan satu agama dengan agama lainnya, sehingga Islam sama dengan agama Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Majusi, Shinto, Konghuchu, dsb ? Karena semua agama menuju tuhan yang sama dengan cara yang berbeda.  Quraisy Shihab dalam mengomentari QS. Al-Baqarah : 120 yang menyatakan : “ Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridla kepadamu sampai engkau  mengikuti agama mereka “ menyatakan bahwa ayat tersebut dikhususkan kepada orang Yahudi dan Kristen tertentu yang hidup pada zaman Nabi Muhammad saw, dan bukan kepada umat Kristen dan Yahudi secara keseluruhan. Demikian juga tetang izin Allah untuk memerangi orang kafir, itu bukan diperuntukkan terhadap Yahudi dan Kristen yang termasuk Ahlul Kitab. ( Pluralitas Agama, Kerukunan dan Keragaman : 26 ).
Para Pengusung Liberalisme dan Pluralisme ini juga sangat menentang penerapan Syari’at Islam, karena akan mendeskriditkan penganut agama lain, akan menzalimi kaum wanita, banyak syari’at Islam yang dinilainya bertentangan dengan HAM, Demokrasi, Gender Equality  (Kesetaraan Gender) dan Pluralisme. . Ulil Absar Abdalla pengerek bendera JIL pernah mengatakan :  “ Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara “kami “ dan “ mereka “ , antara Hizbullah ( golongan Allah ) dan Hizbus Syaithan ( golongan syetan) adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia.”  Dia juga mengatakan bahwa amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan ‘baju’ yang dipakai, sementara mereka lupa  inti ‘memakai baju’  adalah untuk menjaga martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok : penyerahan diri kepada Yanga Maha Benar. Dengan pemikiran ini berarti dia ingin menganulir firman Allah yang membagi manusia menjadi dua golongan, Hizbullah dan Hizbus syaithan seperti yang tertuang dalam Al-Qur’an :

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ – المائدة : 56

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.  QS. Al-Maidah : 56

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ – المجادلة : 19

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.  QS. Al-Mujadilah : 19

Dengan demikian bagi kaum pluralis  dan liberalis , semua manusia sama, tidak ada mukmin tidak ada kafir, tidak ada manusia tha’at dan tidak ada manusia bejat, mereka telah mengangkat kesesatan dan kekufuran  dan kemusyrikan sejajar dengan hidayah, tauhid dan ketakwaan. Dan pada akhirnya sikap antipati terhadap segala mecam kesesatan dan kemunkaran akan sirna. Menurut slogan kaum pluralis : “ Agama-agama seperti Yahudi, Nashrani dan Islam , ibaratnya seperti keberadaan empat madzhab fiqih di tengah-tengah kaum muslimin, semuanya pada hakikatnya menuju kepada Allah. Dampaknya lainnya dari pemahaman seperti ini, ketika semua agama dianggap sama, tidak ada beda selain tata cara dan bajunya, maka umat yang “ sendiko dawuh “ dengan paham pluralisme ini tidak akan memiliki ghirah atau kecemburuan dalam beragama. Baginya tidak ada keistimewaan pada Islam jika dibanding dengan Kristen misalnya. Karena semua agama sama, dengan tuhan yang sama hanya beda cara memanggil atau menyebut dengan baju dan cara yang beda. Pada saat yang bersamaan , secara finansial para missionaris Kristen yang banyak melakukan pendekatan dakwah dengan finansial, secara logika manusia normal, ketika seseorang harus memilih antara dua agama yang sama-sama dianggap benar, tentunya variable lain yang akan dijadikan alat timbang adalah keuntungan materi. Mereka akan dengan ringan melepas ‘baju ‘ Islam untuk mendapatkan duit atau materi dengan memakai ‘ baju ‘ Kristen. Dan ini akan merupakan kontribusi atau sumbangan sangat berharga kaum pluralis dan Liberalis bagi suksesnya missi kristenisasi.

Teologi Pluralisme yang diusung kaum Liberalis ini sebenarnya telah ketinggalan zaman, kalau kita memperhatikan pernyataan para pakar sejarah dan teolog Kristen, seperti : 1) Uskup John Shelby Spong dalam bukunya Why Cristianity Must Change or Die ( 1998 )          ( mengapa agama Kristen harus berubah atau akan Mati ) menyatakan: “ Kita harus membebaskan Yesus dari kedudukannya sebagai Juru Selamat…. Ajaran ini harus dicabut dan dibuang. “   2) Reverend DR Charles Francis Potter dalam bukunya The Lost Years of Yesus Revealed ( 1992 ) menyatakan : “ Para pemuka agama Kristen tidak dapat dimaafkan untuk ( memepertuhankan Yesus ) dengan memanfaatkan keterbatasan … berfikir orang-orang palestina 2000 tahun yang lalu. “  3) John Davidson dalam bukunya The Gospel of Yesus ( 1995 ) menyatakan : “Barangkali kita ( umat Kristen ) telah tersesat selama 2000 tahun.”   Ketiga contoh di atas memperlihatkan ketiga pakar dan teolog tersebut bukannya mengatakan bahwa agama mereka, Krsiten, adalah agama yang benar, mereka malah mengakui sebaliknya, agama mereka ternyata agama yang salah dan menyesatkan.   John Shelby Spong dalam bukunya Rescuing the Bible From Fundamentalism ( 1991 ) malah menyatakan : “ Dia ( Paus Paulus ) tidak menulis firman Allah, yang dia tulis adalah kata-katanya sendiri yang khusus, penuh keterbatasan serta memiliki kelemahan sebagai ciri seorang manusia. “. Aneh bin ajaibnya  kaum Pluralis liberalis di Indonesia malah ngotot menyatakan bahwa Kristen sama dengan Islam ?

Seorang tokoh JIL dalam Jawa Pos ( 11/1-2003 ) menyatakan : “ Bagi saya All Scriptures are Miraccles “  ( Semua kitab suci adalah mukjizat ), Subhanallah ! Berarti Al-Qur’an bagi dia sejajar dengan kitab Weda dan Bagawad Gita-nya Hindu, Tripitaka-nya Budha, Su Si-nya Konghuchu, Tao The Ching-nya  Taoisme, Darmo Gandul dan Gatholoco-nya Aliran Kebatinan.  Padahal tentang Taurat  saja Allah telah berfirman :

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ – النساء : 45

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan ( dalam Taurat ) dari tempat-tempatnya”.  QS. An-Nisa : 45

Tentang Injil yang dikarang oleh para penulisnya , Allah telah menegaskan :

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُون – البقرة : 79

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. QS. Al-Baqarah : 79

Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no 153 yang diberi judul bab oleh Imam An-Nawawi  “ Wujubul Iman bi Risalatin Nabi saw Ila Jami’in Nasi Wa Naskhul Milali bi Millatihi “  menegaskan : “ Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah mendengar dariku seseorang dari umat ini, baik orang Yahudi maupun Nashrani, kemudian ia mati dalam keadaan ia tidak beriman dengan risalah yang aku bawa,  pasti ia kan masuk neraka. “

Allah swt dalam banyak ayat juga telah dengan tegas menyatakan bahwa Yahudi dan Kristen itu kafir:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّة  (6)إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ(7) – البينة

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. QS. Al-Bayyinah : 6-7

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَار
ٍلَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ – المائدة : 72-73

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. QS. Al-Maidah 72-73

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًا مَا يُؤْمِنُونَ(88)وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ  عَلَى الْكَافِرِينَ(89)بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِين   ٌ(90) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ(91) – البقرة

Dan mereka ( Yahudi ) berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman. Dan setelah datang kepada mereka Al Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al Qur'an yang diturunkan Allah", mereka berkata: "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Dan mereka kafir kepada Al Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur'an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" QS Al-Baqarah : 88-91

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ(51)فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ(52) – المائدة

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.  QS Al-Maidah : 51-52

Jika Allah swt dan Rasul-Nya telah menegaskan bahwa Yahudi dan Kristen itu kafir, beberapa teolog dan pakar sejarah Kristenpun telah menyatakan bahwa agama mereka salah dan menyesatkan, sementara para pengusung dan pejuang Pluralisme agama dengan mendasarkan ajarannya kepada : demokrasi, HAM, gender equality dan Pluralisme masih menganggap dan meyakini  serta mengkampanyekan bahwa semua agama sama, semua kitab suci sama sebagai mukjizat, tuhan yang disembah sama,  sehingga praktis mensejajarkan Allah dengan Yesus, Uzeir, Roh Kudus, Sang Hyang, Sang Budha dan Dewa, agama hanya dianggap baju . Pertanyaannya : “ Masih beragamakah Orang yang seperti ini? Kalau masih, agama apakah itu ?  Fa Aina Tadzhabuun ? Wallahu’alam,  Wal-‘Iyadu billahi.

Demikian artikel Ketauhidan dan Pemahaman Islam yang Benar yang ditulis oleh seorang Ulama KH. Shidiq Amien 



*) Disampaikan dalam Kegiatan Training for Trainers PB Pemuda Al-Irsyad, di Jakarta, Ahad, 8 Maret 2009 OLEH : KH. Shiddiq Amien